Ketika Natsir mengajukan Mosi Integral dalam parlemen RIS (3 April 1950), beliau bisa akur dan saling mendukung misalnya dengan tokoh Katolik seperti I.J. Kasimo
“MEREKA bisa berbeda dalam prinsip berpolitik, tetapi perbedaan itu tidak berakibat pada hubungan mereka sebagai sesama teman,” demikian tutur Jakob Oetama dalam buku “Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jako Oetama” (2011: 556) saat menggambarkan sosok Natsir yang sangat lapang jiwanya dalam menyikapi perbedaan.




